Rabu, 26 April 2017

INDUSTRIALISASI DI INDONESIA

A.     KONSEP DAN TUJUAN INDUSTRIALISASI
             Dalam sejarah pembangunan ekonomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi industry pertama pada pertengahan abad 18 di Inggris dengan penemuan metode baru untuk pemintalan dan penenunan kapas yang menciptakan spesialisasi dalam produksi dan peningkatan produktivitas dari factor produksi yang digunakan. Setelah itu, inovasi dan penemuan baru dalam pengolahan besi dan mesin uap yang mendorong inovasi dalam pembuatan antara lain besi baja, kereta api dan kapal tenaga uap.
          Revolusi industry kedua akhir abad 18 dan awal abad 19 dengan berbagai perkembangan teknologi dan inovasi membantu laju industrialisasi. Setelah PD II muncul berbagai teknologi baru seperti produksi masal dengan menggunakan assembly line, tenaga listrik, kendaraan bermotor, penemuan barang sintetis dan revolusi teknologi komunikasi, elektronik, bio, computer dan penggunaan robot.
          Industrialisasi adalah suatu proses interakasi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.
Industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa negara dengan penduduk sedikit dan kekayaan alam meilmpah seperti Kuwait dan Libya ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa industrialisasi.
          Tujuan pembangunan industri nasional baik jangka menengah maupun jangka panjang ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan baik di sektor industri maupun untuk mengatasi permasalahan secara nasional, yaitu :
1.    Meningkatkan penyerapan tenaga kerja industri.
2.    Meningkatkan ekspor Indonesia dan pember-dayaan pasar dalam negeri.
3.    Memberikan sumbangan pertumbuhan yang berarti bagi perekonomian.
4.    Mendukung perkembangan sektor infrastruktur.
5.    Meningkatkan kemampuan teknologi.
6.    Meningkatkan pendalaman struktur industri dan diversifikasi produk.
7.    Meningkatkan penyebaran industri.

B.     FAKTOR PENDORONG INDUSTRIALISASI

             Berikut ini adalah faktor-faktor pokok yang menyebabkan suatu industri / perindustrian dapat berkembang dengan baik apabila dimiliki, antara lain adalah :
a)    Faktor Pokok
1.      Modal
Modal digunakan untuk membangun aset, pembelian bahan baku, rekrutmen tenaga kerja, dan lain sebagainya untuk menjalankan kegiatan industri. Modal bisa berasal dari dalam suatu negara serta dari luar negeri yang disebut juga sebagai penanaman modal asing (PMA).
2.      Tenaga Kerja
Tenaga kerja dengan jumlah dan standar kualitas yang sesuai dengan kebutuhan suatu perindustrian tentu akan membuat industri tersebut menjadi lancar dan mempu berkembang di masa depan. Jika suatu negara kelebihan tenaga kerja, maka salah satu solusi yang baik adalah mengirim tenaga kerja ke luar negeri menjadi tenaga kerja asing. Contohnya indonesia dengan tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga kerja wanita (TKW). Jika suatu negara kekurangan tenaga kerja maka salah satu jalan keluarnya adalah mendatangkan tenaga kerja asing dari luar negaranya.
3.      Bahan Mentah / Bahan Baku
Bahan baku adalah salah satu unsur penting yang sangat mempengaruhi kegiatan produksi suatu industri. Tanpa bahan baku yang cukup maka proses produsi dapat terhambat dan bahakan terhenti. Untuk itu pasokan bahan mentah yang cukup baik dari dalam maupun luar negeri / impor dapat melancarkan dam mempercepat perkembangan suatu industri.
4.       Transportasi
Sarana transportasi sangat vitas dibutuhkan suatu industri baik untuk mengangkut bahan mentah ke lokasi industri, mengangkut dan mengantarkan tenaga kerja, pengangkutan barang jadi hasil output industri ke agen penyalur / distributor atau ke tahap produksi selanjutnya, dan lain sebagainya. Terbayang bila transportasi untuk kegiatan tadi terputus.
5.       Sumber Energi / Tenaga
Industri yang modern memerlukan sumber energi / tenaga untuk dapat menjalankan berbagai mesin-mesin produksi, menyalakan perangkat penunjang kegiatan bekerja, menjalankan kendaraan-kendaraan industri dan lain sebagainya. Sumber energi dapat berwujud dalam berbagai bentuk seperti bahan bakar minyak / bbm, batubara, gas bumi, listrik, metan, baterai, dan lain sebagainya.
6.      Marketing / Pemasaran Hasil Output Produksi
Pemasaran produk hasil keluaran produksi haruslah dikelola oleh orang-orang yang tepat agar hasil produksi dapat terjual untuk mendapatkan keuntungan / profit yang diharapkan sebagai pemasukan untuk pembiayaan kegiatan produksi berikutnya, memperluas pangsa pasar, memberikan dividen kepada pemegang saham, membayar pegawai, karyawan, buruh, dan lain-lain.

b)   Faktor Penunjang / Faktor Pendukung
1.      Kebudayaan Masyarakat
Sebelum membangun dan menjalankan kegiatan industri sebaiknya patut dipelajari mengenai adat-istiadat, norma, nilai, kebiasaan, dan lain sebagainya yang berlaku di lingkungan sekitar. Tidak sensitif terhadap kehidupan masyarakat sekitar mampu menimbulkan konflik dengan penduduk sekitar. Selain itu ketidak mampuan membaca pasar juga dapat membuat barang hasil produksi tidak laku di pasaran karena tidak sesuai dengan selera konsumen, tidak terjangkau daya beli masyarakat, boikot konsumen, dan lain-lain.
2.       Teknologi
Dengan berkembangnya teknologi dari waktu ke waktu akan dapat membantu industri untuk dapat memproduksi dengan lebih efektif dan efisien serta mampu menciptakan dan memproduksi barang-barang yang lebih modern dan berteknologi tinggi.
3.      Pemerintah
Pemerintah adalah bagian yang cukup penting dalam perkembangan suatu industri karena segala peraturan dan kebijakan perindustrian ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah beserta aparat-aparatnya. Pemerintahan yang stabil mampu membantu perkembangan industri baik dalam segi keamanan, kemudahan-kemudahan, subsidi, pemberian modal ringan, dan sebagainya.
4.      Dukungan Masyarakat
Semangat masyarakat untuk mau membangun daerah atau negaranya akan membantu industri di sekitarnya. Masyarakat yang cepat beradaptasi dengan pembangunan industri baik di desa dan di kota akan sangat mendukung sukses suatu indutri.
5.      Kondisi Alam
Kondisi alam yang baik serta iklim yang bersahabat akan membantu industri memperlancar kegiatan usahanya. Di Indonesia memiliki iklim tropis tanpa banyak cuaca yang ekstrim sehingga kegiatan produksi rata-rata dapat berjalan dengan baik sepanjang tahun.
6.      Kondisi Perekonomian
Pendapatan masyarakat yang baik dan tinggi akan meningkatkan daya beli masyarakat untuk membeli produk industri, sehingga efeknya akan sangat baik untuk perkembangan perindustrian lokal maupun internasional. Di samping itu Saluran distribusi yang baik untuk menyalurkan barang dan jasa dari tangan produsen ke konsumen juga menjadi hal yang sangat penting.

C.      PERKEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR NASIONAL

 
Sektor industri manufaktur di banyak Negara berkembang mengalami perkembangan sangat  pesat dalam tiga decade terakhir. Asia Timur dan Asia Tenggara dapat dikatakan sebagai kasus istimewa. Lebih dari 25 tahun terakhir, dijuluki a miraculous economic karena kinerja ekonominya sangat hebat.
Dari 1970 hinga 1995, industri manufaktur merupakan contributor utama. Untuk melihat sejauh mana perkembangan industry manufaktur di Indonesia selama ini, perlu dilihat perbandingan kinerjanya dengan sector yang sama di Negara-negara lain. Dalam kelompok ASEAN, misalnya kontribusi output dari sector industry manufaktur terhadap  pembentukan PDB di Indonesia masih relative kecil, walaupun laju pertumbuhan output rata-ratanya termasuk tinggi di Negara-negara ASEAN lainnya.
Struktur ini menandakan Indonesia belum merupakan Negara dengan tingkat industrialisasi yang tinggi dibandingkan Malaysia dan Thailand

D.     PERMASALAHAN INDUSTRIALISASI

             Secara umum, industry manufaktur di Negara-negara berkembang masih terbelakang jika dibandingkan dengan sector yang sama di Negara maju, walaupun di Negara-negara  berkembanga ada Negara-negara yang industrinya sudah sangat maju.
             Dalam kasus Indonesia, UNIDO (2000) dalam studinya mengelompokkan masalah yang dihadapi industry manufaktur nasional ke dalam 2 kategori, yaitu kelemahan yang bersifat structural dan yang bersifat organisasi.
             Kelemahan-kelemahan structural di antaranya:
1.    Basis ekspor dan pasarnya yang sempit
a)      Empat produk, yakni kayu lapis, pakaian jadi, tekstil dan alas kaki memiliki pangsa 50% dari nilai total manufaktur
b)      Pasar tekstil dan pakaian jadi sangat terbatas
c)       Tiga Negara (US, Jepang dan Singapura), menyerap 50% dari total ekspor manufaktur Indonesia, sementara US menyerap hampir setengah total nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi
d)      Sepuluh produk menyumbang 80% seluruh hasil ekspor manufaktur
e)      Banyak produk manufaktur padat karya yang terpilih sebagai produk unggulan Indonesia mengalami penurunan harga di pasar dunia akibat persaingan ketat
f)       Banyak produk manufaktur yang merupakan ekspor tradisional Indonesia mengalami  penurunan daya saing
2.    Ketergantungan impor yang sangat tinggi
3.    Tidak adanya industry berteknologi menengah
4.    Konsentrasi regional Kelemahan-kelemahan organisasi, di antaranya:
a)      Industry skala kecil dan menengah (IKM) masih underdeveloped
b)      Konsentrasi pasar
c)       Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi
d)      Lemahnya SDM

E.      STRATEGI PEMBANGUNAN SEKTOR INDUSTRI

1.      Strategi Subtitusi Impor Lebih menekankan pada pengembangan industry yang berorientasi pada pasar domestik Strategi subtitusi impor adalah industry domestic yang membuat barang menggantikan impor.
Dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai dengan mengembangkan industry dalam negeri yang memproduksi barang pengganti impor.
Pertimbangan yang lajim digunakan dalam memilih strategi ini adalah:
a)      SDA dan factor produksi lain (terutama tenaga kerja) cukup tersedia  
b)      Potensi permintaan dalam negeri memadai
c)       Pendorong perkembangan sector industry manufaktur dalam negeri
d)      Dengan perkembangan industry dalam negeri, kesempatan kerja lebih luas
e)      Dapat mengurangi ketergantungan impor
2.       Penerapan strategi subtitusi impor dan hasilnya di Indonesia
Industry manufaktur nasional tidak berkembang baik selama orde baru Ekspor manufaktur Indonesia belum berkembang dengan baik Kebijakan proteksi yang berlebihan selama orde baru menimbulkan high cost economy Teknologi yang digunakan oleh industry dalam negeri, sangat diproteksi
3.       Strategi Promosi Ekspor
 Lebih berorientasi ke pasar internasional dalam pengembangan usaha dalam negeri Tidak ada diskriminasi dalam pemberian insentif dan fasilitas kemudahan lainnya dari  pemerintah Dilandasi pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dicapai jika produk yang dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor Strategi promosi ekspor mempromosikan fleksibilitas dalam pergeseran sumber daya ekonomi yang ada mengikuti perubahan pola keunggulan komparatif
4.       Kebijakan industrialisasi
Dirombaknya system devisa sehingga transaksi luar negeri lebih bebas dan sederhana Dikuranginya fasilitas khusus yang hanya disediakan bagi perusahaan Negara dan kebijakan  pemerintah untuk mendorong pertumbuhan sector swasta bersama-sama dengan BUMN

F.      CONTOH KASUS

Indonesia should Accelerate Industrialization

By
UNAIR News -
http://news.unair.ac.id/en/2017/02/20/indonesia-should-accelerate-industrialization/
UNAIR NEWS – Fiscal, monetary, and real policy are easy to formulate but difficult to implement as every sector of policy is managed and has different interests. It was stated by the Coordinating Minister of Economics of United Indonesia II Cabinet, Chairul Tanjung.
“As it is managed by different interets with other different interests, for instance Bank Indonesia functions to maintain monetary condition, OJK (Otoritas Jasa Keuangan, ed) emphasizes good fundamental condition. Not only in Indonesia but in other countries as well,” said the man known better as CT.
Chairul made the statement during public discussion with 2003 Nobel Laureate for Economics, Prof. Robert Fry Engle III in Airlangga Convention Center Campus C UNAIR, Monday, February 20. The discussion was titled “The Prospects for Financial Global Stability” and attended by The Chairman of Advisory Council of OJK, Muliaman D. Hadad, and the Director of marketing Finance Development of BI Nanang Hendarsah.
According to Chairul, the slow economic growth in Indonesia was happened as 60% of it was supported by domestic consumption factor. The growth is not disrupted as long as the consumption factor is not disrupted.
“The problem is, when the consumption grows, the supply is disrupted and we must import. If we keep importing, we will be deficit,” said Chairul, a member of Universitas Airlangga Board of Trustees.
To make industrial sector grow, industrialization in Indonesia should also be developed. But unfortunately it receives some opposition from the society.
To prevent any monetary crises, good fundamental condition is needed. Muliaman in the same forum said two things to create excellent fundamentals of finance, capital market and excellent administration.
“Capital market should also be managed well so when the crisis happens, it won’t affect us,” said Muliaman.
Defrina:Defrina Sukma S
Editor: Nuri Hermawan

G.     ANALISIS

According to Chairul, the slow economic growth in Indonesia was happened as 60% of it was supported by domestic consumption factor. The growth is not disrupted as long as the consumption factor is not disrupted.
“The problem is, when the consumption grows, the supply is disrupted and we must import. If we keep importing, we will be deficit,” said Chairul, a member of Universitas Airlangga Board of Trustees.
To make industrial sector grow, industrialization in Indonesia should also be developed. But unfortunately it receives some opposition from the society.
To prevent any monetary crises, good fundamental condition is needed. Muliaman in the same forum said two things to create excellent fundamentals of finance, capital market and excellent administration.

SUMBER :

http://slideplayer.info/slide/3267590/ (tgl 22 april 2017, 21:07)